Jumat, 22 Februari 2013

Segores Harapan dalam Selembar Kertas


Pagi yang begitu dingin menemani langkahku menuju sekolah.kuiringi dinginnya pagi ini dengan semangatku untuk pendidikanku ini. Sesampainya di sekolah,seperti biasa aku selalu datang pertama.Inilah aku,seorang siswi SMA kelas 3 yang diterima di sekolah yang begitu megah bagai istana.Namun,bukan karena aku kaya dan dengan sogokan uang sehingga dengan mudah aku diterima di sekolah ini.Melainkan,karena ibukulah yang berjualan makanan kecil di salah satu kantin sekolah ini,sehingga pihak sekolah menerimaku.Aku dan ibuku juga diberi keringanan dalam pembayaran sekolah.Sehingga kami tidak terlalu terbebani oleh biaya.Aku menuju kantin tempat ibuku berjualan.Rasa haru dan tak tega selalu meliputiku jika melihat ibu setiap pagi berjuang mati-matian untuk menghidupiku sebagai anak tunggal sendirian tanpa bantuan siapapun,ayahku sudah meninggalkan kami dan lebih memilih untuk menikahi wanita lain,dan dia pun meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ayah yaitu menafkahi kami.
Sepuluh menit lagi bel sekolah berbunyi.aku segera mangambil tas dan berpamitan kepada ibuku.
“ Ibu,Ifah tinggal dulu ke kelas ya,sebentar lagi masuk”.
“ Iya Nak,gunakan kesempatanmu ini sebaik-baiknya dan selalu ingat Allah ya”
“ Iya bu,Assalamualaikum”
“ Walaikum salam”
Sesampainya di kelas aku disambut dengan teman sebangkuku yang satu-satunya  mau berteman denganku bernama Yunar.Maklumlah,mungkin yang lain merasa jijik dengan aku yang mempunyai apa-apa dibandingkan mereka yang berharta. Namun,aku sangat bersyukur walaupun aku hanya memiliki satu teman yang mau menerimaku,padahal Yunar sendiri termasuk orang mampu,bahkan sangat mampu,apa yang diinginkan selalu terpenuhi.
            “ Hei,Ifah sudah mengerjakan tugas matematikamu?”
            “ Eh,Alhamdulillah sudah,kamu sendiri?”
            “ Sama aku juga sudah,oh ya gimana keputusanmu tentang pemberitahuan pendaftaran universitas kemarin?sudah kau tanyakan ibumu?”
“ Belum,Yun aku belum berani bertanya pada beliau,sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan kuliah,tapi aku takut akan menjadi beban ibuku”
“ Lho,kok kayak gitu sih,ayolah dicoba dulu,lagipula kau pintar,bisa saja nanti kau mendapatkan beasiswa dan mendapat keringanan biaya kuliah”
“ Baiklah,Insyallah,nanti aku coba tanyakan ibuku”
Selama kami bicara,kami tidak menyadari bahwa teman yang duduk didepanku mendengar percakapan kami.Dia merupakan salah satu dari membenci aku dengan angkuhnya dia mencelaku.
“ Heh,Yunar kau tadi bilang apa sama orang kumuh tadi?”
Seolah dia tidak percaya dengan perkataan Yunar yang menginginkanku melanjutkan sekolah.
            “ Aku bilang sama Ifah biar dia melanjutkan sekolah ke universitas,kamu keberatan?”Tanya Yunar dengan kasar.
“ Bukannya keberatan sih,cuma mau kasih saran aja,mendingan kamu nggak perlu ngasih harapan yang nggak pasti deh sama orang miskin kayak dia,mana mungkin dia kuat bayar kuliah segitu mahalnya,masuk sekolah ini aja dapat keringanan cuma gara-gara ibunya jualan di kantin,oh apa mungkin nanti waktu mau kuliah ibunya pindah jualan ke kampus kali ya,biar dapat keringanan lagi”ejek Dina
Yunar yang mendengar celotehan itu langsung berdiri dan menampar pipi Dina,seketika itu juga teman yang lain fokus ke kami bertiga.
“ Yunar biarkan saja,jangan kau tanggapi”cegahku
“ Awas ya,sampai kau bicara macam-macam lagi”ancam Yunar
Aku hanya diam saja,tak tahu apa yang harus kulakukan,memang ada benarnya perkataan Dina “tapi apakah sampai seperti itu juga aku diperlakukan hingga ibuku juga ikut diejeknya?”batinku.
            Selama pelajaran berlangsung,aku tak bisa berkonsentrasi penuh,karena memikirkan perkataan Dina.Hingga akhirnya aku sampai di rumah,wajahku masih tetap murung,ibu yang melihatku sedari tadi mengerti yang apa yang sedang kurasakan.
            “ Assalamualaikum,nak,ada masalah apa sedari tadi murung seperti itu?”
            “ Waalaikumsalam,ah tidak apa-apa bu,oh iya,Ibu,Ifah ingin meminta keputusan dengan ibu”
            “ Ada masalah apa nak?”
            “ Ibu,bolehkah setelah lulus nanti,Ifah melanjutkan ke perguruan tinggi?”
            “Tentu saja boleh,nak,justru ibu akan bangga jika kau melanjutkan kuliah,sebisa mungkin ibu akan mencari rezeki dengan halal untuk biayamu kelak,ibu tak ingin kau menjadi seperti ibumu ini Nak,ibu ingin sekali melihat kau sukses,cukup ibu saja yang merasakan penderitaan ini,asalkan kau bisa bahagia,Nak”.
Hatiku benar-benar terenyuh mendengar kata-kata itu dari ibuku.Aku benar-benar merasa beruntung mempunyai seorang ibu yang mendukungku walaupun berbagai cacian,perlakuan kasar,dan cobaan bertubi-tubi datang kepadanya,namun beliau masih mempunyai semangat untuk kehidupan anaknya kelak,mengajariku tentang kesopanan,agama,dan mengajariku untuk membiasakan memakai hijab.benar-benar wanita tangguh yang tak dapat dikalahkan oleh siapapun.tak terasa mengalirlah air mataku.
            “ Ibu,Ifah berjanji,suatu saat Ifah akan menunjukkan pada ibu bahwa ibu tidak akan sia-sia menyekolahkan ifah”.kataku sambil memeluk ibu
“ Iya,nak ibu yakin kau bisa,jangan putus semangat belajarmu,tetaplah berdoa dan berharap pada Allah agar kau diberi kemudahan”.
“ Baik,terimakasih bu,ah Ibu Ifah mau belajar dulu ya,assalamualaikum”
“ Iya,waalaikumsalam”
Didalam kamar,entah mengapa aku ingin memotivasi diriku.Aku langsung merobek satu lembar kertas dan kutuliskan dengan huruf besar bertuliskan “AKU HARUS MELANJUTKAN KULIAH,AKAN KUBUAT IBUKU BANGGA”.Itulah yang kutulis dan sengaja aku tempel di kamarku agar aku selalu ingat dengan targetku.
            Keesokan harinya,aku sampaikan pernyataan ibuku kepada Yunar,dan akhirnya dengan kemantapan hatiku,aku mendaftar bersama Yunar ke universitas yang cukup terkenal dan berkualitas di tempat kami.Dan aku juga mencoba mendaftar di jalur beasiswa.Namun,aku tidak hanya mendaftar di satu universitas aja,lagipula pendaftarannya dibuka sebelum aku ujian nasional,sehingga masih banyak waktu untuk mencoba di universitas lain.Tak terasa hari berlalu,akupun melaksanakan ujian nasional,dengan kepercayaan diriku ini kukerjakan soal demi soal dengan tenang dan yakin.
            Sebulan kemudian,waktunya untuk sekolah kami mengumumkan kelulusan ujian kami,seluruh orang tua dan wali murid datang untuk memenuhi undangan acara perpisahan sekolah kami,tak terkecuali ibuku.Dalam acara perpisahan tersebut juga ada acara untuk pemberian penghargaan untuk murid yang meraih nilai tinggi.Ada rasa tak percaya ketika namaku disebut sebagai peraih nilai ujian tertinggi di sekolah ini.Bahkan yang lebih mencengangkan lagi,aku juga diberitahu oleh pihak sekolah bahwa aku juga diterima di universitas yang dulu pernah Yunar tawarkan bahkan akupun mendapat beasiswa.Alhamdulillah,dua berita baik datang menyambutku.Sesampainya di rumah aku benar-benar sangat senang melihat raut wajah ibuku yang begitu bahagia atas keberhasilanku.
 “Nak,selamat ya,kamu berhasil meraih mimpimu,ini mimpimu dulu,ibu kembalikan lagi padamu”sambil menyerahkan selembar kertas yang ternyata setelah aku buka berisi mimpiku dulu yang kutempelkan pada dinding kamarku.
“maaf,ibu memang sengaja mengambilnya,karena ibu ingin melihat hasilmu selama bersekolah,jika kau gagal akan ibu simpan,namun jika kau berhasil akan ibu kembalikan padamu”.
“Terimakasih ibu”
            Dan kini,akupun berdiri di depan rumah yang kini bisa dikatakan cukup bagus.Ya,inilah rumahku sekarang yang dulu pernah menjadi gubuk kecil bersama ibuku.kini aku telah menjadi seorang sarjana dan alhamdulillah kini aku ditempatkan di perusahaan yang besar diluar kota,dan akhirnya bisa membalas jasa ibuku selama aku menuntut ilmu.Tak lama aku berdiri,ibuku sudah menyambut kedatanganku,ya,inilah ibuku,sosok tertangguh,sosok tersabar,sosok penyayang yang tak mungkin bisa aku dapatkan dari wanita lain. terima kasih Allah,Terima kasih ibu,terima kasih semangatku,terima kasih ilmu,dan tak lupa kuucapkan terima kasih pada mimpiku yang dahulu kutuliskan pada selembar kertas.Hidup itu sebenarnya susah,namun semua akan menjadi mudah,tinggal bagaimana kita manghadapinya,jika kita hadapi dengan mengeluh makin susahlah hidupmu,dan jika kita hadapi dengan penuh kerja keras yakinlah suatu saat Allah akan memberikan kemudahan yang tak pernah kau duga sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar