Pagi yang begitu dingin menemani
langkahku menuju sekolah.kuiringi dinginnya pagi ini dengan semangatku untuk
pendidikanku ini. Sesampainya di sekolah,seperti biasa aku selalu datang
pertama.Inilah aku,seorang siswi SMA kelas 3 yang diterima di sekolah yang
begitu megah bagai istana.Namun,bukan karena aku kaya dan dengan sogokan uang
sehingga dengan mudah aku diterima di sekolah ini.Melainkan,karena ibukulah
yang berjualan makanan kecil di salah satu kantin sekolah ini,sehingga pihak
sekolah menerimaku.Aku dan ibuku juga diberi keringanan dalam pembayaran
sekolah.Sehingga kami tidak terlalu terbebani oleh biaya.Aku menuju kantin
tempat ibuku berjualan.Rasa haru dan tak tega selalu meliputiku jika melihat
ibu setiap pagi berjuang mati-matian untuk menghidupiku sebagai anak tunggal sendirian
tanpa bantuan siapapun,ayahku sudah meninggalkan kami dan lebih memilih untuk
menikahi wanita lain,dan dia pun meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ayah
yaitu menafkahi kami.
Sepuluh menit lagi bel sekolah
berbunyi.aku segera mangambil tas dan berpamitan kepada ibuku.
“ Ibu,Ifah tinggal dulu ke kelas
ya,sebentar lagi masuk”.
“ Iya Nak,gunakan
kesempatanmu ini sebaik-baiknya dan selalu ingat Allah ya”
“ Iya
bu,Assalamualaikum”
“ Walaikum salam”
Sesampainya di kelas aku disambut dengan
teman sebangkuku yang satu-satunya mau
berteman denganku bernama Yunar.Maklumlah,mungkin yang lain merasa jijik dengan
aku yang mempunyai apa-apa dibandingkan mereka yang berharta. Namun,aku sangat
bersyukur walaupun aku hanya memiliki satu teman yang mau menerimaku,padahal
Yunar sendiri termasuk orang mampu,bahkan sangat mampu,apa yang diinginkan
selalu terpenuhi.
“
Hei,Ifah sudah mengerjakan tugas matematikamu?”
“
Eh,Alhamdulillah sudah,kamu sendiri?”
“ Sama aku juga sudah,oh ya gimana
keputusanmu tentang pemberitahuan pendaftaran universitas kemarin?sudah kau
tanyakan ibumu?”
“ Belum,Yun aku belum
berani bertanya pada beliau,sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan kuliah,tapi
aku takut akan menjadi beban ibuku”
“ Lho,kok kayak gitu
sih,ayolah dicoba dulu,lagipula kau pintar,bisa saja nanti kau mendapatkan
beasiswa dan mendapat keringanan biaya kuliah”
“
Baiklah,Insyallah,nanti aku coba tanyakan ibuku”
Selama kami
bicara,kami tidak menyadari bahwa teman yang duduk didepanku mendengar
percakapan kami.Dia merupakan salah satu dari membenci aku dengan angkuhnya dia
mencelaku.
“ Heh,Yunar kau tadi
bilang apa sama orang kumuh tadi?”
Seolah dia tidak percaya dengan perkataan
Yunar yang menginginkanku melanjutkan sekolah.
“ Aku bilang sama Ifah biar dia
melanjutkan sekolah ke universitas,kamu keberatan?”Tanya Yunar dengan kasar.
“ Bukannya keberatan
sih,cuma mau kasih saran aja,mendingan kamu nggak perlu ngasih harapan yang
nggak pasti deh sama orang miskin kayak dia,mana mungkin dia kuat bayar kuliah
segitu mahalnya,masuk sekolah ini aja dapat keringanan cuma gara-gara ibunya
jualan di kantin,oh apa mungkin nanti waktu mau kuliah ibunya pindah jualan ke
kampus kali ya,biar dapat keringanan lagi”ejek Dina
Yunar yang mendengar celotehan itu
langsung berdiri dan menampar pipi Dina,seketika itu juga teman yang lain fokus
ke kami bertiga.
“ Yunar biarkan
saja,jangan kau tanggapi”cegahku
“ Awas ya,sampai kau
bicara macam-macam lagi”ancam Yunar
Aku hanya diam saja,tak tahu apa yang
harus kulakukan,memang ada benarnya perkataan Dina “tapi apakah sampai seperti
itu juga aku diperlakukan hingga ibuku juga ikut diejeknya?”batinku.
Selama
pelajaran berlangsung,aku tak bisa berkonsentrasi penuh,karena memikirkan
perkataan Dina.Hingga akhirnya aku sampai di rumah,wajahku masih tetap murung,ibu
yang melihatku sedari tadi mengerti yang apa yang sedang kurasakan.
“
Assalamualaikum,nak,ada masalah apa sedari tadi murung seperti itu?”
“ Waalaikumsalam,ah tidak apa-apa
bu,oh iya,Ibu,Ifah ingin meminta keputusan dengan ibu”
“
Ada masalah apa nak?”
“
Ibu,bolehkah setelah lulus nanti,Ifah melanjutkan ke perguruan tinggi?”
“Tentu saja boleh,nak,justru ibu
akan bangga jika kau melanjutkan kuliah,sebisa mungkin ibu akan mencari rezeki
dengan halal untuk biayamu kelak,ibu tak ingin kau menjadi seperti ibumu ini
Nak,ibu ingin sekali melihat kau sukses,cukup ibu saja yang merasakan
penderitaan ini,asalkan kau bisa bahagia,Nak”.
Hatiku benar-benar terenyuh mendengar
kata-kata itu dari ibuku.Aku benar-benar merasa beruntung mempunyai seorang ibu
yang mendukungku walaupun berbagai cacian,perlakuan kasar,dan cobaan
bertubi-tubi datang kepadanya,namun beliau masih mempunyai semangat untuk
kehidupan anaknya kelak,mengajariku tentang kesopanan,agama,dan mengajariku
untuk membiasakan memakai hijab.benar-benar wanita tangguh yang tak dapat
dikalahkan oleh siapapun.tak terasa mengalirlah air mataku.
“ Ibu,Ifah berjanji,suatu saat Ifah
akan menunjukkan pada ibu bahwa ibu tidak akan sia-sia menyekolahkan ifah”.kataku
sambil memeluk ibu
“ Iya,nak ibu yakin
kau bisa,jangan putus semangat belajarmu,tetaplah berdoa dan berharap pada
Allah agar kau diberi kemudahan”.
“ Baik,terimakasih
bu,ah Ibu Ifah mau belajar dulu ya,assalamualaikum”
“ Iya,waalaikumsalam”
Didalam kamar,entah mengapa aku ingin
memotivasi diriku.Aku langsung merobek satu lembar kertas dan kutuliskan dengan
huruf besar bertuliskan “AKU HARUS MELANJUTKAN KULIAH,AKAN KUBUAT IBUKU
BANGGA”.Itulah yang kutulis dan sengaja aku tempel di kamarku agar aku selalu
ingat dengan targetku.
Keesokan
harinya,aku sampaikan pernyataan ibuku kepada Yunar,dan akhirnya dengan
kemantapan hatiku,aku mendaftar bersama Yunar ke universitas yang cukup
terkenal dan berkualitas di tempat kami.Dan aku juga mencoba mendaftar di jalur
beasiswa.Namun,aku tidak hanya mendaftar di satu universitas aja,lagipula
pendaftarannya dibuka sebelum aku ujian nasional,sehingga masih banyak waktu
untuk mencoba di universitas lain.Tak terasa hari berlalu,akupun melaksanakan
ujian nasional,dengan kepercayaan diriku ini kukerjakan soal demi soal dengan
tenang dan yakin.
Sebulan
kemudian,waktunya untuk sekolah kami mengumumkan kelulusan ujian kami,seluruh
orang tua dan wali murid datang untuk memenuhi undangan acara perpisahan
sekolah kami,tak terkecuali ibuku.Dalam acara perpisahan tersebut juga ada
acara untuk pemberian penghargaan untuk murid yang meraih nilai tinggi.Ada rasa
tak percaya ketika namaku disebut sebagai peraih nilai ujian tertinggi di
sekolah ini.Bahkan yang lebih mencengangkan lagi,aku juga diberitahu oleh pihak
sekolah bahwa aku juga diterima di universitas yang dulu pernah Yunar tawarkan
bahkan akupun mendapat beasiswa.Alhamdulillah,dua berita baik datang
menyambutku.Sesampainya di rumah aku benar-benar sangat senang melihat raut
wajah ibuku yang begitu bahagia atas keberhasilanku.
“Nak,selamat ya,kamu berhasil meraih
mimpimu,ini mimpimu dulu,ibu kembalikan lagi padamu”sambil menyerahkan selembar
kertas yang ternyata setelah aku buka berisi mimpiku dulu yang kutempelkan pada
dinding kamarku.
“maaf,ibu memang
sengaja mengambilnya,karena ibu ingin melihat hasilmu selama bersekolah,jika
kau gagal akan ibu simpan,namun jika kau berhasil akan ibu kembalikan padamu”.
“Terimakasih ibu”
Dan
kini,akupun berdiri di depan rumah yang kini bisa dikatakan cukup
bagus.Ya,inilah rumahku sekarang yang dulu pernah menjadi gubuk kecil bersama
ibuku.kini aku telah menjadi seorang sarjana dan alhamdulillah kini aku
ditempatkan di perusahaan yang besar diluar kota,dan akhirnya bisa membalas
jasa ibuku selama aku menuntut ilmu.Tak lama aku berdiri,ibuku sudah menyambut
kedatanganku,ya,inilah ibuku,sosok tertangguh,sosok tersabar,sosok penyayang
yang tak mungkin bisa aku dapatkan dari wanita lain. terima kasih Allah,Terima kasih ibu,terima
kasih semangatku,terima kasih ilmu,dan tak lupa kuucapkan terima kasih pada mimpiku
yang dahulu kutuliskan pada selembar kertas.Hidup itu sebenarnya susah,namun
semua akan menjadi mudah,tinggal bagaimana kita manghadapinya,jika kita hadapi
dengan mengeluh makin susahlah hidupmu,dan jika kita hadapi dengan penuh kerja
keras yakinlah suatu saat Allah akan memberikan kemudahan yang tak pernah kau
duga sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar